Festival Budaya Prodjo Budhoyo Meriahkan Weekend Masyarakat Blora

Advertisement

Juang Merdeka, Blora – Dalam rangka memeriahkan Hari Batik Nasional, Festival Prodjo Budhoyo digelar meriah di Stadium Seni Budaya Tirtonadi Blora pada hari sabtu, 03 Oktober 2026, pukul 19.00 WIB.

Acara ini diinisiatori oleh berbagai pihak, diantaranya terdapat para Seniman Kreator Blora, Tokoh Maestro Seni Tari dari sanggar Greget Semarang, dan kolaborasi dengan berbagai lembaga sponshorship sebagai salah satu fasilitator.

Konsep acara tidak hanya dikemas seremonial, namun juga dalam bentuk Workshop Tari yang diajari langsung oleh “Sang Maestro Tari” Prof. Dr. Yoyok Priambodo, hingga peserta yang mengikuti workshop dapat di pertunjukkan dalam acara ini.

Pagelaran seni budaya ini juga diisi dengan agenda Lomba Fashion Show Batik bertema Casual Batik Nusantara, pertunjukan seni budaya Blora yaitu tari Ngujiwat, tari Blora Bumiku, rampak Lodro, seni barong Gembong Amijoyo, dan juga pameran batik motif daun jati khas Blora. Hingga Puluhan masyarakat Blora antusias mengunjungi pagelaran ini sebagai hiburan untuk mengisi malam weekend-nya, dan sebagian yang lain menyuarakan dukungan semangat untuk para jagoannya peserta Lomba Fashion Show Batik Casual.

Para peserta Lomba Fashion Show Casual Batik 3 kategori mulai usia 3-15 tahun menampilkan batik keseniannya dengan totalitas, penampilan mereka mengundang sorak-sorakkan para pengunjung yang mensupport calon juara mereka semakin menambah kemeriahan acara. Sepanjang penulis mengikuti acara, terdapat kejadian unik yang menarik perhatian sekaligus sedikit memancing emosi para pengunjung yang hadir di tempat, para juri profesional yang diundang memerlukan waktu yang cukup lama untuk merekapitulasi nilai para peserta lomba dan menentukan juara lomba.

”Mohon menunggu sebentar ya bapak ibu, para juri masih merekapitulasi nilai. Mungkin karena penampilan para peserta bagus-bagus semua, sampai para juri profesional kita ini bingung menentukan juara lomba”, Celetuk Improvisasi MC untuk mencairkan suasana acara sembari menenangkan para pengunjung yang masih menunggu pengumuman juara lomba.

Ketua Dekranasda Hj. Ainia Shalichah yang hadir dalam event tersebut memberikan apresiasi kebanggaan atas terselanggaranya event festival budaya prodjo budoyo, dalam sambutannya ia menyampaikan harapan

”Blora memiliki ragam budaya yang harus kita uri-uri, Blora tidak hanya kaya akan kulinernya, melainkan juga kaya akan seni batik, seni tari, seni barong dan lain sebagainya, semoga acara pada momentum hari batik nasional ini dapat mengenalkan batik Blora pada bangsa hingga ke pasar yang lebih luas”, tandasnya.

Lebih lanjut, dia juga memotivasi generasi muda Blora untuk nguri-nguri seni budaya Blora, agar budaya Blora lestari selamanya.

Acara ini juga dihadiri oleh Prof. Dr. Yoyok Priambodo ”Sang Maestro Tari” yang mengajari peserta workshop menari, dalam sambutannya Dia berterimakasih atas inisiatif para inisiator, kontribusi para panitia, berbagai pihak yang mendukung sukses penyelenggaraan acara, serta para pengunjung yang hadir pada acara malam ini.

Dia juga memohon izin kepada panitia untuk menyampaikan saran masukan mengenai dekorasi panggung, dan lighting. ”Izin menyampaikan saran masukan dari saya, barangkali menjadi evaluasi untuk kedepannya. Saya melihat para peserta lomba fashion show ada yang mengenakan batik dari luar Blora, tadi ada yang pakai batik ”mego mendung”, motif air, dan lain sebagainya. Masukan dari saya, karena Festival Prodjo Budaya ini juga bertujuan untuk mengenalkan seni Batik Blora, peserta bisa mengenakan pakaian batik khas dari Blora”. Masukannya.

Budayawan berjiwa seni itu juga menilai dekorasi lighting yang mengganggu tampilan para Peserta Lomba. ”Untuk lightingnya ini juga bisa disetting cahaya rendah supaya make up, pakaian batik yang dikenakan, itu bisa terlihat oleh pengunjung, kalo pencahayaannya tinggi justru malah menghalangi tampilan”. Ucapnya.

Prof. Dr. Yoyok Priambodo yang dijuluki “Maestro Tari” juga menyorot pada bagian Dekorasi dan Standard Safety panggung untuk fashion show. ”…dan untuk panggung utama ini juga tidak ada karpetnya, sama pangung tambahan ini kurang safety. Saya coba cek ternyata panggungnya ”nggiut-ngiut”, jadinya bahaya untuk para penampil pertunjukan”. Imbuhnya.

Meski begitu, waktu acara demi acara berjalan mulai dari opening hingga closing, masyarakat Blora pengunjung acara, menyambutnya dengan sorakan gembira dan tepuk tangan yang sangat meriah. Di sela waktu mendekati penghujung acara, juga terdapat agenda pemberian sertifikat HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) Oleh Prof. Yoyok kepada Ibu Ainia Shalichah dan kepada para Tokoh Seniman Kreator Blora sebagai bentuk pengakuan identitas seni budaya atas karyanya.

Penulis: Muhammad Zulfi Irhamul Huda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *