Juang Merdeka – Blora, Di tengah kemarau yang panjang ini, si jago merah itu kerap mengamuk di Kabupaten Blora. Seringkali penanganan mengalami kendala yang disinyalir karena terbatasnya armada yang dimiliki Pemerintah Daerah.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Blora, Hariyanto, Jumat (9/10/2026) mengatakan jumlah personel disesuaikan dengan sarana prasarana yang tersedia serta cakupan wilayah pelayanan.
“Saat ini kita baru memiliki 9 unit damkar, 7 diantaranya dalam kondisi siap pakai, tahun depan jadi 8 karena 1 masih dalam proses perbaikan,” ujarnya.
Dari sisi sumber daya manusia, Damkar Blora saat ini memiliki sekitar 69 personel yang terdiri dari ASN dan PNS. Mereka ditempatkan di empat pos pelayanan, yakni Mako, Randublatung, Ngawen, dan Cepu.
Rinciannya, 30 personel berada di Pos Mako, 11 personel di Pos Randublatung, 13 personel di Pos Ngawen, dan 12 personel di Pos Ceри.
Hariyanto mengatakan distribusi personel tersebut belum sepenuhnya ideal. Pos Randublatung menjadi salah satu wilayah yang masih mengalami kekurangan personel.
“Sebenarnya ada kekurangan personel di Pos Randublatung dengan 11 personel. Padahal untuk satu damkar rata-rata ditangani 4-5 orang,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat pengaturan pola piket menjadi penting agar pelayanan penanganan kebakaran tetap berjalan dengan jumlah personel yang tersedia.
“Saat ini yang bisa kita lakukan menyusun dan memformulasikan piketnya, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi agar setiap kejadian kita menangani dengan jumlah personel yang ada,” katanya.
Selain penambahan personel, Damkar Blora juga mendorong pemberdayaan relawan pemadam kebakaran untuk mendukung penanganan kebakaran di wilayah.
“Musim kemarau membuat kondisi lingkungan menjadi lebih kering dan mudah terbakar. Karena itu kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat menggunakan api di sekitar rumah maupun kandang ternak. Jangan sampai kelalaian kecil menimbulkan kerugian yang besar,” pesan Wakil Bupati Blora Sri Setyorini di waktu sebelumnya.
Wakil Bupati Blora Hj. Sri Setyorini mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam penggunaan api, terutama di sekitar rumah dan kandang ternak, agar musibah serupa tidak kembali terjadi. (Mg)
