Peringati Hari Buruh Internasional, Rohmad Sofyan Ali Bacakan Puisi Buruh Lapar

Advertisement

Juang Merdeka -Blora.  Peringatan Hari Buruh Internasional di Kabupaten Blora pada 1 Mei 2026  diwarnai kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai belum mampu menjawab persoalan mendasar buruh, khususnya buruh tani.

Kegiatan yang digelar oleh aliansi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Rumah Juang, Front Blora Selatan dan elemen masyarakat lainnya serta dihadiri oleh organisasi kemahasiswaan eksternal PMII Blora dan IMM Blora, yang menjadi ruang artikulasi kegelisahan kolektif atas ketimpangan ekonomi yang terus berlangsung.

Dalam forum tersebut, Rohmad Sofyan Ali selaku Formatur HMI Komisariat Raden Wilatikta Cabang Blora membacakan puisi berjudul “Buruh Lapar”, yang menggambarkan realitas keras kehidupan buruh di tengah klaim pembangunan nasional. Dalam salah satu bagian puisinya ia menyuarakan, “Aku lapar… kerja sehari hanya untuk sepiring nasi,” sebagai potret ironi buruh di negeri agraris.

“Sebenarnya puisi ini tentang keresahan buruh tani,” ujar Rohmad dalam keterangannya. Ia menambahkan, “Banyak harapan petani yang bekerja keras untuk anak-anaknya supaya bisa hidup lebih layak, tapi kenyataannya tidak semudah itu.”

Rohmad menegaskan bahwa puisinya berangkat dari realitas buruh tani yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan struktural. Ia juga menyinggung praktik tidak adil dalam dunia kerja. “Ada juga keresahan tentang pemalakan terhadap anak muda yang mendaftar pegawai negeri, tapi justru diminta membayar dulu,” tegasnya.

Larik “Aku tak punya hektar-hektar seperti apa yang kau inginkan” dalam puisi tersebut, menurutnya, mencerminkan kondisi buruh tani yang terpaksa menjual lahan demi masa depan anak. “Banyak buruh tani menjual sawahnya supaya anaknya bisa jadi pegawai negeri, tapi itu justru menunjukkan betapa sempitnya pilihan hidup mereka,” lanjut Rohmad.

Selain itu, kegiatan ini juga menyoroti persoalan upah minimum yang dianggap belum mampu menjamin kehidupan layak. Dalam puisinya, Rohmad turut menggambarkan dampak sosial dari tekanan ekonomi, termasuk relasi personal yang retak. “Gajiku sebagai buruh yang tak pasti, menjadikan alasan yang mengiris hati,” menjadi salah satu potongan yang dibacakan.

“Banyak pemuda hari ini sakit hati karena gaji kecil, bahkan sampai kehilangan pasangan karena dianggap tidak punya masa depan ekonomi yang jelas,” ungkapnya.

Aliansi penyelenggara menilai kondisi ini sebagai bukti bahwa kebijakan pemerintah belum sepenuhnya berpihak pada rakyat kecil. “Ekonomi hari ini terasa hanya berpihak pada mereka yang sudah mapan, sementara buruh terus berjuang keluar dari kemiskinan,” ujar salah satu perwakilan peserta kegiatan.

Peringatan Hari Buruh di Blora tahun ini tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum kritik terbuka terhadap arah kebijakan negara. Melalui pendekatan kultural dan solidaritas lintas organisasi, kegiatan ini menegaskan bahwa perjuangan buruh masih panjang, terutama dalam menghadapi sistem yang dinilai belum menghadirkan keadilan sosial secara merata. (sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *