Juang Merdeka – Blora, Mengusung tema Nyalakan Cerita, Literasi Blora Mendunia, Festival Literasi Blora (FLB) 2026 diselenggarakan pada 14–17 Oktober 2026 di halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Blora. Kegiatan itu secara resmi dibuka oleh Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si., Rabu (13/10/2026).
Dalam kesempatan yang sama Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, Rahmah Nur Hayati, S.K.M, M.Kes, menyampaikan apresiasi atas terselenggarnya FLB 2026 serta rangkaian kegiatannya.
“Bunda Literasi Kabupaten Blora Gokil !, Bunda Literasi Kabupaten Blora sombong ! Memang betul, kalau kita ingin orang lain melihat kita berarti kita yang harus menjual diri. Lebih baik sombong daripada minder. Keren, keren, tepuk tangan untuk Bunda Literasi Kabupaten Blora,” ucap Rahmah Nur Hayati memberi apresiasi dan motivasi dengan penuh semangat saat mengawali sambutannya.
Ia mengaku sangat tidak menyesal hadir langsung pada FLB 2026, bahkan bangga dan bahagia, ternyata Blora tidak hanya dikenal dengan seni barongan, kemudian tidak hanya dikenal dengan sate Bloranya yang lezat, tidak hanya dikenal dengan produk minyaknya, lumbung pangan dan sebagainya.
“Tetapi luar biasa, dan ini ternyata visualisasinya di dumbeg,” kata Rahmah sambil memegang kue dumbeg.
Dirinya pun membeberkan makna dari DUMBEG itu, sebagai berikut.
D-Dibungkus dengan sangat apik dan kuat dari daun lontar. Ini sama halnya dengan ilmu pengetahuan, literasi, itu pun terbungkus dengan nilai, etika dan tanggung jawab.
U-Ulet, maknanya, literasi itu juga butuh keuletan, kalau setiap hari ada waktu 15 menit untuk berliterasi, mudah-mudahan ini akan menjadi pembiasaan.
M- Manisnya pas. Artinya, literasi di Blora ini merepresentasikan bahwa semakin banyak membaca akan semakin manis, akan semakin bijaksana, akan semakin beretika, akan semakin kritis.
B-Berasal dari desa, dimana dumbeg ini berasal dari dapur-dapurnya desa. Artinya, ada duta baca di desa, ada perpustakaan di desa, dengan demikian dimaknai bahwa literasi itu berasal dari desa.
“Seperti dumbeg-dumbeg ini berasal dari dapurnya desa. Luar biasa, keren. Blora mempunyai 295 desa/kelurahan, bayangkan, alangkah indahnya jika anak-anak dari 295 desa/keluraan itu semunya berliterasi dan semunya mempunyai minat baca yang luar biasa, semuanya beretika, akan seperti apa Blora gemilangnya masa-masa yang akan datang,” jelasnya.
E-Ekonomi Rakyat. Dimaksudkan bawa literasi itu mencerdaskan, literasi itu mensejahterakan.
“Berawal dari literasi dumbeg, ini pasti akan mensejahterakan dari UMKM yang ada di desa dengan produk dumbeg. Bagaimana dengan UMKM yang lain, produk dari literasi masyarakat di desa, produk dari duta baca, produk dari perpustakaan desa, dan sebagainya,” terangnya.
G-Guyub rukun. Karena membuat dumbeg pasti tidak akan sendiri, ada nilai gotong royong, sama halnya dengan literasi.
“Literasi juga butuh kolaborasi. Kolaborasi ini dari unsur Forkopimda, kemudian dari mitra-mitra kami, semua perangkat daerah mempunyai andil, mempunyai peran untuk ini. Dan Kabupaten Blora mempunyai 600 SD dan 102 SMP, sama halnya desa, sekolah ini pun wajib bukunya harus ada perpustakaan yang mampu menggairahkan minat baca, artinya bukan sekadar ada, tetapi perpustakaan itu betul-betul dapat dimanfaatkan, tidak hanya anak didik, tetapi masyarakat di sekitar sekolah pun harus terlibat dalam literasi di sekolah. Termasuk perangkat daerah, juga harus ada perpustakaan,” bebernya.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah Rahmah Nur Hayati, S.K.M, M.Kes, mengungkapkan lebih lanjut bahwa dengan potensi seperti itu membawa Blora dalam Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi, dan masuk urutan kedua, di bawah Kabupaten Kudus.
“Kemudian untuk tingkat kegemaran membaca Blora itu pun keren. Rangking tiga tahun 2025 dari 35 Kabupaten/Kota, di atas provinsi. Selanjutnya Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat, untuk Blora kemarin di rangking sembilan,” pungkasnya. (Mg)
