Blora

  • Berita

    Pembangunan Kependudukan Cegah Lost Generation di Blora

    Juang Merdeka Jateng –   Lost generation penyebabnya terkait dengan gizi, kesehatan, sosial, politik dan pendidikan. Beberapa peneyebab lost generation yang disebabkan kondisi social dan politik meliputi kemiskinan, perang, konflik social, kriminalitas yang tinggi bahkan akibat penyalahgunaan narkoba. Lost generation berdampak penurunan kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam satu generasi akibat penurunan kualitas fisik, kecerdasan atau intelligence quotient (IQ), mental/psikis, sosial dan spritual. Berdasarkan pemetaan factor penyebab lost generation diatas serta pola penyelesaiannya maka dapat dipetakan prioritas pecegahan sesuai kondisi yang ada. Bagi kabupaten Blora lost generation berpotensi muncul karena factor kemiskinan yang beririsan dengan rendahnya kualitas gizi. Faktor kemiskinan disebabkan oleh tingkat pendidikan, rendahnya kualitas tenaga kerja serta terbatasnya ketersediaan lapangan kerja. Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu dirumuskan kebijakan pembangunan kependudukan yang secara langsung dapat memperbaiki kualitas tenaga kerja sehingga berimplikasi pada kenaikan penghasilan untuk memangkas tingkat kemiskinan. Pembangunan kependudukan. Tujuan akhir suatu pembangunan yaitu kesejahteraan rakyat, karena manusia bukan hanya merupakan obyek pembangunan tetapi diharapkan bias menjadi subyek, sehingga dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi kemajuan wilayah yang secara makro menjadi kemajuan suatu Negara.         Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan manusia, ada tiga hal pokok yang perlu diperhatikan yaitu produktifitas, kesinambungan dan pemberdayaan. Produktifitas penduduk harus tingkatkan. Produktifitas dan…

    Read More »
  • Berita

    Mahasiswa Blora Dapat Gemblengan dari Ketum Tani Merdeka

    Juang Merdeka Jateng – Don Mudzakir Ketua Umum Tani Merdeka memberikan gembleng pada mahasiswa Blora tentang pertanian dan peran mahasiswa sebagai aktivis. Gemblengan dilakukan dengan diskusi terbuka yang juga dihadiri beberapa elemen masyarakat lain. Gemblengan tersebut berlangsung di Joogreen Galery Resto & Cafe Jepon pada Rabu (15/05/2024). “Sebagai mahasiswa, adik-adik bisa menyampaikan apapun dengan banyak cara karena ini negara demokratis. Bisa demo atau apapun bentuk lainnya. Tapi ingat, apa yang kita sampaikan itu harus dengan data,” kata mantan aktivis HMI MPO ini. Bang Don demikian panggilan akrabnya yang sore itu mengenakan kemeja berwarna abu-abu menceritakan bagaimana sepak terjang dan suka duka ketika menjadi aktivis. “Wah, jangan ditanya berapa kali saya demo sampai dipukuli dan berapakali saya keluar masuk penjara. Ini masih ada bekas luka akibat pukulan yang diobati oleh Bang Hariman Siregar tokoh Malari setelah saya keluar penjara. Ya, pikiran kita waktu itu pokoknya semua yang dilakukan pemerintah pasti salah,” kenangnya. Ia menambahkan bahwa cara seperti itu tidak bisa dilakukan terus menerus. Perlu cara berpikir yang obyektif dalam menguraikan masalah sehingga solusinya tepat. “Dalam bidang pertanian, Tani Merdeka sebagai ormas juga seperti itu, harus obyektif berdasarkan data ketika menyusun program-programnya. Harus dengan data agar kebijakan yang dihasilkan juga tepat,” tandasnya.…

    Read More »
  • Berita

    HMI Soroti Unsur Keadilan dalam Seleksi PPK Pilkada Blora 2024

    Juang Merdeka – Ketua Umum HMI Cabang Blora, Taufiqurrahman, menyoroti unsur keadilan dalam seleksi Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dalam Pilkada 2024. Adapun seleksi PPK saat ini telah melalui tahapan wawancara. “PPK itu akan selalu menjadi menarik karena di dalamnya tidak hanya berhubungan dengan penerapan regulasi dan akuntabilitas prosesnya. Namun, juga unsur pertimbangan rasa keadilan sosial ekonomi didalamnya yang pasti terkait,” ujarnya di sela-sela apel tiga pilar Kapolda Jateng di Cepu, Minggu (12/05/2024). Ia menuturkan biasanya yang menjadi perbincangan publik atau netizen terletak di tema rasa keadilan. “Kita tahulah, kerja-kerja KPU dalam seleksi PPK sudah dipandu dengan aturan dan norma yang jelas dan tegas. Tetapi harapan kami pertimbangan-pertimbangan sosiologis turut digunakan,” tambah alumnus STAI Khozinatul Ulum ini. Lebih lanjut, Taufik mengatakan bahwa di antara pertimbangan-pertimbangan tersebut salah satunya ialah latar belakang sosial ekonomi dari calon. Dari segi kompetensi, dirinya yakin bahwa hasil tes CAT kemarin menunjukkan kemampuan yang setara dari kesepuluhnya. “Masyarakat mungkin akan memandangnya dari rasa keadilannya. Misalnya mereka yang berasal dari guru yang sudah bersertifikasi yang dari swasta itukan sudah punya penghasilan tetap, termasuk dari yayasannya juga itukan sudah lumayan mapan, jadi mungkin tidak dipilih,” ujarnya. Menurutnya, sorotan semacam ini cukup banyak diperbincangkan terutama oleh netizen. “Sudut pandang semacam…

    Read More »